
Thibbun nabawi bukan sekadar istilah untuk pengobatan tradisional. Bagi seorang Muslim, thibbun nabawi merupakan bagian dari upaya mengenal tuntunan Rasulullah ﷺ dalam menjaga kesehatan, memilih ikhtiar perawatan, dan menempatkan kesembuhan sebagai karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Salah satu praktik yang paling dikenal dalam thibbun nabawi adalah terapi bekam atau hijamah. Rasulullah ﷺ pernah menjalani bekam, dan beberapa hadis menjelaskan keutamaan praktik tersebut. Dalam tradisi Islam, dikenal pula anjuran memilih tanggal 17, 19, dan 21 bulan Hijriah untuk berbekam.
Namun, apa sebenarnya thibbun nabawi? Mengapa bekam mendapat perhatian dalam hadis? Apa manfaat yang dapat diharapkan dari terapi bekam, dan apakah seseorang harus menunggu tanggal sunnah untuk melakukannya?
Melalui artikel pertama Bekam BRH Cibiru ini, kami mengajak Anda memahami dasar-dasar bekam sunnah, mulai dari dalil, tata cara secara umum, pemilihan waktu, hingga adab dan persiapan sebelum menjalani terapi.
Apa Itu Thibbun Nabawi?
Secara bahasa, thibb berarti pengobatan atau upaya penyembuhan, sedangkan nabawi berarti berkaitan dengan Nabi. Dengan demikian, thibbun nabawi dapat dipahami sebagai tuntunan dan praktik pengobatan yang memiliki dasar dalam ajaran Rasulullah ﷺ.
Pembahasan thibbun nabawi mencakup berbagai bentuk ikhtiar, seperti penggunaan madu, terapi bekam, ruqyah syar’iyyah, serta tuntunan yang berkaitan dengan kebersihan, pola hidup, dan pemeliharaan kesehatan.
Hal yang penting dipahami adalah bahwa thibbun nabawi tidak hanya berbicara tentang tindakan ketika seseorang mengalami keluhan. Ada pula nilai ibadah, adab, kesabaran, dan tawakal yang menyertai setiap usaha merawat diri.
Seorang Muslim dapat berikhtiar memilih perawatan yang sesuai dengan kebutuhannya sambil meyakini bahwa Allah-lah yang memberikan kesembuhan.
Thibbun nabawi dan prinsip ikhtiar
Dalam memahami thibbun nabawi, terdapat tiga hal yang patut diperhatikan.
Pertama, mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Praktik yang memiliki dasar dalam hadis dipelajari dengan memperhatikan penjelasan dan pemahaman para ulama.
Kedua, menjaga adab dan kehati-hatian. Kebersihan, privasi, kondisi orang yang menjalani terapi, dan kemampuan terapis merupakan bagian penting dalam pelaksanaan perawatan.
Ketiga, tidak menjanjikan hasil yang sama kepada setiap orang. Kondisi tubuh dan kebutuhan masing-masing orang berbeda. Bekam merupakan bentuk ikhtiar, sementara hasil yang dirasakan tidak selalu seragam.
Dengan pemahaman tersebut, thibbun nabawi tidak dipandang sebagai sekadar kumpulan resep, melainkan sebagai bagian dari sikap seorang Muslim dalam merawat amanah berupa tubuh dan kesehatan.
Mengenal Terapi Bekam atau Hijamah
Bekam, dalam bahasa Arab disebut al-hijamah, merupakan praktik perawatan dengan menggunakan cawan atau kop yang menghasilkan tekanan hisap pada bagian tubuh tertentu.
Praktik ini telah dikenal sejak lama dan memiliki tempat tersendiri dalam sejumlah riwayat hadis.
Secara umum, masyarakat mengenal dua bentuk bekam, yaitu bekam kering dan bekam basah.
Bekam kering
Bekam kering dilakukan menggunakan cawan yang menempel pada permukaan kulit melalui tekanan hisap, tanpa tindakan pengeluaran darah.
Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan orang yang menjalani terapi.
Bekam basah
Bekam basah merupakan bentuk hijamah yang melibatkan penggunaan cawan dan pengeluaran sejumlah kecil darah melalui tindakan pada permukaan kulit.
Karena melibatkan kontak dengan darah, kebersihan alat, penggunaan perlengkapan yang sesuai, dan keterampilan terapis harus mendapat perhatian khusus.
Istilah bekam sunnah dalam masyarakat umumnya merujuk pada praktik hijamah yang dikaitkan dengan tuntunan Rasulullah ﷺ, termasuk perhatian pada adab dan waktu-waktu yang disebutkan dalam riwayat.
Namun, tidak setiap teknik bekam memiliki rincian pelaksanaan yang sama. Karena itu, penting memahami jenis tindakan yang akan dilakukan sebelum memulai sesi.
Bekam dalam Hadis Rasulullah ﷺ
Kedudukan bekam dalam pembahasan thibbun nabawi tidak terlepas dari riwayat-riwayat yang menyebut praktik tersebut.
Dalam Sahih al-Bukhari No. 5680, terdapat hadis dari Ibnu Abbas yang menyebut bekam bersama madu sebagai bagian dari pengobatan yang mengandung kesembuhan.
Rujukan: Sahih al-Bukhari No. 5680.
Kemudian, dalam Sahih Muslim No. 1577, diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berbekam melalui Abu Thaibah. Riwayat tersebut juga menyebut bekam sebagai salah satu bentuk pengobatan yang baik.
Rujukan: Sahih Muslim No. 1577a.
Dua riwayat ini memperlihatkan bahwa bekam bukanlah praktik yang asing dalam kehidupan Rasulullah ﷺ.
Bagi kaum Muslimin, dasar tersebut menjadi alasan untuk mengenal hijamah secara lebih serius, bukan hanya mengikuti kebiasaan masyarakat atau tren perawatan tertentu.
Apakah Rasulullah ﷺ pernah melakukan bekam kepala?
Ya. Dalam Sahih al-Bukhari No. 5698–5699, terdapat riwayat bahwa Rasulullah ﷺ menjalani bekam pada bagian kepala ketika sedang dalam perjalanan menuju Makkah dan berada dalam keadaan ihram.
Rujukan: Sahih al-Bukhari No. 5698–5699.
Riwayat tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan bekam kepala dalam literatur thibbun nabawi.
Meskipun demikian, penerapannya tetap perlu memperhatikan keadaan orang yang menjalani terapi, bagian tubuh yang akan ditangani, serta kemampuan terapis.
Apa Saja Manfaat Terapi Bekam?
Pertanyaan mengenai manfaat bekam sering muncul ketika seseorang pertama kali mengenal hijamah.
Dalam pembahasan thibbun nabawi, manfaat bekam dapat dilihat dari dua sisi: kedudukannya sebagai ikhtiar yang disebut dalam hadis dan pengalaman kenyamanan tubuh yang mungkin dirasakan setelah menjalani terapi.
1. Membantu menghadirkan rasa nyaman pada tubuh
Sebagian orang memilih bekam ketika tubuh terasa pegal, kaku, atau kurang nyaman setelah menjalani aktivitas sehari-hari.
Area punggung dan bahu termasuk bagian tubuh yang sering mendapat perhatian dalam layanan bekam.
Setelah sesi, sebagian orang merasakan tubuh lebih ringan atau lebih nyaman. Namun, pengalaman ini bersifat individual dan tidak berarti setiap keluhan akan memberikan respons yang sama.
2. Menjadi bagian dari perawatan diri yang terencana
Aktivitas harian yang padat terkadang membuat seseorang kurang memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri.
Menjadwalkan waktu untuk perawatan dapat menjadi kesempatan untuk lebih memperhatikan kebutuhan istirahat, kebiasaan hidup, dan kondisi tubuh.
Bagi sebagian Muslim, memilih bekam juga berkaitan dengan keinginan mengenal salah satu praktik yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ.
3. Memberikan kesempatan untuk relaksasi
Suasana ruang terapi yang tenang, komunikasi yang baik dengan terapis, dan kesempatan beristirahat dapat menjadi pengalaman yang menenangkan.
Rasa rileks tersebut tidak selalu berasal dari satu tindakan tertentu. Suasana dan kenyamanan selama menjalani sesi juga dapat berperan.
Karena itu, kami memandang penting agar proses terapi dilakukan dengan tenang, menjaga privasi, dan tidak terburu-buru.
4. Menghidupkan perhatian terhadap sunnah
Bagi seorang Muslim, mengenal bekam memiliki makna yang lebih luas daripada perawatan fisik.
Ketika seseorang mempelajari riwayat hijamah, memahami adabnya, lalu memilih menjalani terapi dengan niat yang baik, terdapat nilai kecintaan terhadap tuntunan Rasulullah ﷺ.
Meski demikian, menjalani bekam tidak boleh dijadikan ukuran kesalehan seseorang. Bekam adalah bentuk ikhtiar yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan keadaan masing-masing.
5. Mendorong perhatian terhadap kebersihan dan adab perawatan
Bekam mengingatkan pentingnya pelaksanaan terapi secara bertanggung jawab.
Perlengkapan yang bersih, penanganan alat yang benar, komunikasi mengenai kondisi tubuh, dan menjaga aurat merupakan perhatian penting yang tidak boleh diabaikan.
Hal ini terutama berlaku pada bekam basah karena prosedurnya melibatkan kontak dengan darah.
Perlu dipahami: manfaat bekam tidak seharusnya disederhanakan menjadi klaim bahwa semua darah yang keluar adalah racun atau bahwa satu sesi dapat menyembuhkan segala penyakit. Dalam berikhtiar, kita tetap perlu menjaga kehati-hatian dan tidak menjanjikan hasil yang pasti.
Mengapa Tanggal 17, 19, dan 21 Hijriah Dikenal sebagai Waktu Sunnah Bekam?
Salah satu pembahasan yang paling menarik dalam terapi bekam adalah waktu pelaksanaannya.
Dalam tradisi bekam sunnah, tanggal 17, 19, dan 21 bulan Hijriah sering menjadi pilihan bagi orang yang ingin menjadwalkan bekam secara berkala.
Dasarnya antara lain riwayat dari Abu Hurairah dalam Sunan Abi Dawud No. 3861, yang menyebut ketiga tanggal tersebut dalam pembahasan waktu berbekam.
Rujukan: Sunan Abi Dawud No. 3861.
Riwayat ini dinilai hasan oleh Al-Albani. Namun, para ulama memiliki perbedaan penilaian mengenai kekuatan hadis-hadis yang membahas waktu bekam secara khusus.
Karena itu, tanggal-tanggal tersebut dapat dipahami sebagai waktu yang dianjurkan menurut sebagian ulama, bukan sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan setiap Muslim.
Tanggal 17 Hijriah
Tanggal 17 termasuk waktu yang disebutkan dalam riwayat mengenai bekam.
Sebagian orang menjadikannya pilihan pertama ketika ingin mengatur jadwal bekam sunnah. Jika kondisi tubuh memungkinkan dan jadwal terapis tersedia, tanggal ini dapat menjadi salah satu pilihan.
Tanggal 19 Hijriah
Tanggal 19 juga termasuk dalam tiga tanggal yang dikenal dalam tradisi bekam sunnah.
Pemilihan tanggal ini memberikan alternatif bagi seseorang yang tidak dapat menjalani terapi pada tanggal 17.
Tanggal 21 Hijriah
Tanggal 21 merupakan tanggal ketiga yang disebutkan dalam pembahasan tersebut.
Bagi orang yang terbiasa merencanakan kunjungan berdasarkan kalender Hijriah, tanggal ini dapat menjadi pilihan lain tanpa harus menganggap dua tanggal sebelumnya lebih wajib.
Gunakan kalender Hijriah, bukan tanggal Masehi
Hal yang perlu diperhatikan adalah 17, 19, dan 21 mengacu pada tanggal bulan Hijriah.
Tanggal tersebut tidak selalu sama dengan tanggal 17, 19, atau 21 pada kalender Masehi.
Karena kalender Hijriah mengikuti peredaran bulan, tanggal Masehinya berubah dari bulan ke bulan. Untuk mengetahui jadwal yang sesuai, periksa kalender Hijriah yang digunakan di wilayah Anda.
Apakah Bekam Harus Dilakukan pada Tanggal Sunnah?
Tanggal 17, 19, dan 21 Hijriah dapat dijadikan pilihan bagi seseorang yang ingin mengikuti anjuran waktu sebagaimana dipahami sebagian ulama.
Namun, bukan berarti bekam pada tanggal lain dilarang, tidak bermanfaat, atau tidak termasuk ikhtiar yang baik.
Bahkan, para ulama yang membahas waktu bekam juga menjelaskan bahwa seseorang dapat melakukan bekam pada waktu lain ketika terdapat kebutuhan.
Karena itu, perlu membedakan dua tujuan yang sering dijumpai.
Bekam yang dijadwalkan secara berkala dapat mempertimbangkan tanggal-tanggal Hijriah tersebut apabila kondisi dan kesempatan memungkinkan.
Bekam karena adanya keluhan tertentu perlu mempertimbangkan kebutuhan orang yang bersangkutan, keadaan tubuh, dan kesesuaian tindakan, bukan sekadar menunggu tanggal tertentu.
Tidak ada ketentuan bahwa setiap orang wajib menjalani bekam sekali dalam sebulan. Jarak antarsesi dan keputusan menjalani tindakan sebaiknya disesuaikan dengan keadaan masing-masing.
Bagaimana Menjalani Bekam dengan Adab yang Baik?
Mengenal sunnah tidak hanya berkaitan dengan memilih tanggal, tetapi juga bagaimana seseorang menjaga adab selama proses perawatan.
Menjaga niat
Menjalani bekam dapat diniatkan sebagai ikhtiar menjaga amanah kesehatan yang Allah berikan.
Niat tersebut disertai harapan memperoleh kebaikan, tanpa menggantungkan kesembuhan kepada alat atau terapis.
Memperhatikan kebersihan dan privasi
Kebersihan perlengkapan merupakan hal penting, terutama dalam tindakan yang melibatkan kulit dan darah.
Selain itu, bagian tubuh yang tidak perlu terbuka sebaiknya tetap tertutup. Privasi pasien dan batasan aurat harus diperhatikan selama proses terapi.
Mengomunikasikan keadaan tubuh
Sebelum menjalani bekam, sampaikan kepada terapis mengenai keluhan, keadaan tubuh, riwayat mudah pingsan, kehamilan, gangguan perdarahan, atau keadaan lain yang perlu diperhatikan.
Informasi tersebut membantu mempertimbangkan apakah suatu tindakan sesuai untuk dilakukan dan langkah kehati-hatian yang dibutuhkan.
Menjalani perawatan tanpa terburu-buru
Beristirahat cukup, menjaga asupan makan dan minum secara wajar, serta mengikuti petunjuk perawatan setelah sesi merupakan bagian dari persiapan yang baik.
Kenyamanan dan keadaan setiap orang perlu diperhatikan, termasuk apabila muncul keluhan yang tidak biasa setelah tindakan.
Mengenal Layanan Bekam BRH Cibiru
Bagi masyarakat Cinunuk, Cileunyi, Cibiru Wetan, dan sekitarnya yang ingin mengenal terapi bekam, Bekam BRH Cibiru menyediakan informasi mengenai layanan bekam dan ruqyah syar’iyyah.
Kami ingin membantu masyarakat memahami bekam sebagai salah satu bentuk ikhtiar yang memiliki dasar dalam tradisi thibbun nabawi, sekaligus memperhatikan adab, kebersihan, dan kebutuhan masing-masing orang.
Anda dapat melihat pilihan layanan Bekam BRH Cibiru untuk mengenal jenis terapi yang tersedia.
Lokasi kami berada di Jl. Raya Cinunuk No.54, Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40625.
Jam operasional setiap hari, pukul 09.00–17.00 WIB. Sebelum datang, Anda dapat menghubungi admin untuk menanyakan informasi layanan dan ketersediaan jadwal.
Petunjuk arah tersedia melalui halaman lokasi Bekam BRH Cibiru.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Thibbun Nabawi dan Bekam
Apakah bekam termasuk thibbun nabawi?
Ya. Bekam atau hijamah merupakan salah satu praktik pengobatan yang disebut dalam hadis Rasulullah ﷺ. Beberapa riwayat sahih menyebut beliau pernah menjalani bekam dan menjelaskan kebaikan praktik tersebut.
Mengapa bekam sunnah dikenal pada tanggal 17, 19, dan 21?
Ketiga tanggal Hijriah itu disebut dalam sejumlah riwayat mengenai waktu bekam dan dianjurkan oleh sebagian ulama. Namun, terdapat perbedaan penilaian terhadap kekuatan riwayat-riwayat waktunya. Karena itu, tanggal tersebut tidak dipahami sebagai kewajiban.
Apakah boleh berbekam selain tanggal 17, 19, dan 21?
Boleh. Bekam tidak hanya dapat dilakukan pada tiga tanggal tersebut. Kebutuhan, keadaan tubuh, dan kesesuaian tindakan tetap menjadi pertimbangan penting.
Apakah terapi bekam selalu mengeluarkan darah?
Tidak. Bekam kering menggunakan cawan tanpa pengeluaran darah, sedangkan bekam basah melibatkan pengeluaran sejumlah kecil darah. Keduanya memiliki perbedaan dalam pelaksanaan dan perhatian kebersihannya.
Apakah semua orang bisa menjalani bekam?
Tidak setiap orang atau keadaan cocok untuk tindakan yang sama. Kondisi seperti gangguan perdarahan, kehamilan, mudah pingsan, atau keadaan tubuh tertentu perlu disampaikan sebelum terapi agar dapat dipertimbangkan dengan tepat.
Menjadikan Bekam sebagai Bagian dari Ikhtiar yang Baik
Thibbun nabawi mengajarkan bahwa menjaga kesehatan bukan hanya perkara mencari cara perawatan, tetapi juga memahami tuntunan, menjaga adab, dan menempatkan tawakal kepada Allah dalam setiap usaha.
Bekam memiliki kedudukan yang dikenal dalam hadis Rasulullah ﷺ. Tanggal 17, 19, dan 21 Hijriah dapat menjadi pilihan bagi yang ingin menjadwalkan bekam menurut anjuran waktu, sementara kebutuhan masing-masing orang tetap perlu diperhatikan.
Dengan memahami dasar dan pelaksanaannya, kita dapat menjadikan bekam sebagai ikhtiar yang dijalani secara sadar, tenang, dan bertanggung jawab.
Siap Ikhtiar Bersama Bekam BRH Cibiru?
Hubungi admin untuk menanyakan layanan bekam, pilihan waktu kunjungan, atau jadwal bekam sunnah tanggal 17, 19, dan 21 Hijriah.